Selasa, 16 September 2014

Mendekatkan Yang Dekat



  • Malam selalu dekat dengan memori. Kita baring, dan sekeliling kita diam. Tak sepertimana siang kita yang penuh dengan bunyi-bunyi.



  • Disini, dirumah ini merupakan syurga yang kita rasakan. Tapi akhir-akhir ini, seolah ia jadi rumah yang sepi.



  • Kita punya kakak, adik dan abang. Ya, kita punya mereka. Disatu bumbung. Sama hal-nya kita miliki ayah dan ibu.



  • Kita semakin tewas dengan apa yg kita ada. Hubungan sesama yang dulunya kita dekat, tapi kita seolah berubah menjadi asing: sendiri-sendiri.



  • Kita sibuk dengan facebook. Adik sibuk dengan ipad, kakak dengan laptopnya, malah abang juga dengan musik tanpa hentinya.



  • Hubungan ini, semakin hari semakin menjauh. Tapi tiap detik kita fikir bahwa kita ingin perhatian. Ingin dihargai.



  • Ibu di dapur melewati masanya dengan memasak. Dia tak pandai facebook. Cuma dia rasa, kasih dan perhatian itu semakin menjauh.



  • Ayah sudah tua. Jarang sekali kita berbual dengannya tidak sepertimana waktu kecik kita: tak akan diam selagi soalan kita tak dijawab.



  • Asik sepertinya. Kawan2 itu penting sekali untuk kita jawab setiap whatsapp yang masuk, tapi bila berjumpa tak banyak yang kita bualkan.



  • Keluarga:  kita punya. Mereka ada dalam ertikata lain tak ada. Mereka ada di foto : di dapur: di ruang tamu: d kamar: tapi kita tak bersama.



  • Sedikit Demi sedikit, mendekatlah. Dekatkanlah yang dekat sebelum kita mendekatkan yang jauh. Musuh paling utama kita sekarang, Social Media. Racun yang bunuh silatutrahim sesama kita dalam diam.

--KIKI GRINDAWANGSA
16 September 2014





Tiada ulasan:

Catat Ulasan